
Makassar, fkub-sulsel.org., Kota Makassar berhasil menempati peringkat ke-9 dalam Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 untuk kategori kota berpenduduk di atas satu juta jiwa. Capaian tersebut menjadi modal sekaligus tantangan bagi Makassar untuk meningkatkan kualitas kerukunan, dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Selatan mendorong penguatan ekosistem kerukunan secara kolektif agar Makassar mampu menembus enam besar hingga tiga besar.
Dorongan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Strategi Peningkatan IKT dan Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) yang digelar FKUB Kota Makassar, Selasa (1/9/2026). Ketua Tim Bina Lembaga dan Kerukunan Umat Beragama Kanwil Kemenag Sulsel sekaligus Wakil Sekretaris FKUB Sulsel, Mallingkai Ilyas, menegaskan bahwa capaian indeks bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen untuk mengukur sejauh mana kota mampu menghadirkan kehidupan yang inklusif, setara, aman, dan harmonis. “Kita tidak sedang mengejar angka. Kita sedang membangun masa depan kota. Capaian IKT harus menjadi pijakan untuk lompatan berikutnya,” ujarnya.
Menurut Mallingkai, kerukunan tidak dapat dibebankan kepada satu lembaga. Pemerintah daerah, Kementerian Agama, FKUB, tokoh lintas agama, penyuluh, kepala KUA, Kelurahan Sadar Kerukunan, pemuda, akademisi hingga media harus bergerak dalam satu ekosistem. Ia mendorong agar kerukunan tidak berhenti pada dialog dan seremoni, tetapi diterjemahkan menjadi kolaborasi nyata dalam menangani berbagai persoalan masyarakat, seperti lingkungan, kebencanaan, pendidikan, kemanusiaan dan pengentasan kemiskinan. “Kita harus bergerak dari interaksi menuju kolaborasi, dan dari kolaborasi menuju dampak,” tegasnya.
Mallingkai juga menyoroti peran strategis media dan ruang digital dalam membangun narasi keberagaman. Praktik baik toleransi, solidaritas dan persaudaraan lintas agama, menurutnya, perlu mendapat ruang pemberitaan yang lebih luas, tidak hanya ketika terjadi konflik. Di tengah maraknya hoaks dan informasi provokatif, media dinilai dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat narasi harmoni. “Media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga pembangun narasi harmoni,” katanya.
Ketua FKUB Kota Makassar, Prof. Arifuddin Ahmad, mengatakan capaian peringkat ke-9 tersebut menunjukkan bahwa Makassar memiliki modal sosial yang kuat untuk terus meningkatkan kualitas kerukunan. “Jika tahun lalu tembus peringkat 9, semoga ke depan Makassar bisa masuk enam besar, bahkan tiga besar,” ujarnya. Namun, ia mengingatkan target tersebut hanya dapat dicapai melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan dan strategi yang lebih terukur.
FGD yang dihadiri pengurus FKUB, Kesbangpol, pengurus Kelurahan Sadar Kerukunan, penyuluh agama, kepala KUA, jurnalis dan sejumlah undangan lainnya itu diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis bagi penguatan kerukunan sekaligus peningkatan IKT dan IKUB. Mallingkai optimistis capaian indeks akan mengikuti jika praktik kerukunan terus dirawat dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. “Kami di Kemenag dan FKUB hanya memfasilitasi, tetapi masyarakatlah yang sebenarnya menjalankan kerukunan setiap hari. Kalau itu terus dijaga, saya yakin indeks akan mengikuti, bukan sebaliknya,” pungkasnya. (rls).